Unggulan

Cara Kerja Carried Interest, MOIC, dan Capital Call dalam Private Equity: Panduan Lengkap

Memahami Carried Interest, MOIC Private Equity, dan Capital Call: Cara Kerja Uang di Dunia Private Equity

Private equity sering terlihat rumit bagi orang yang baru mengenal dunia investasi.

Di pasar saham, kita cukup membeli saham melalui broker. Harga terlihat setiap saat. Kita bisa melihat apakah investasi naik atau turun. Jika ingin menjual, kita tinggal melakukan transaksi selama pasar tersedia.

Namun, private equity memiliki mekanisme yang sangat berbeda.

Ketika seorang investor memasukkan uang ke private equity fund, uang tersebut biasanya tidak langsung digunakan untuk membeli satu saham yang bisa diperjualbelikan setiap hari.

Investor memberikan komitmen modal kepada sebuah fund.

Fund manager kemudian mencari perusahaan privat yang dianggap memiliki potensi.

Setelah investasi dilakukan, perusahaan tersebut dikembangkan selama beberapa tahun.

Pada akhirnya, perusahaan dijual atau dilakukan exit.

Keuntungan dari proses tersebut kemudian dibagikan kepada investor dan fund manager berdasarkan struktur yang telah disepakati.

Di sinilah muncul tiga istilah penting:

Capital Call.

MOIC atau Multiple on Invested Capital.

Carried Interest.

Ketiganya saling berhubungan.

Untuk memahami bagaimana private equity menghasilkan uang, kita perlu memahami ketiganya secara berurutan.

Secara sederhana, alurnya dapat dibayangkan seperti ini:

Investor membuat komitmen modal → Fund melakukan Capital Call → Investor menyetor modal → Fund membeli perusahaan → Perusahaan berkembang → Fund melakukan exit → Modal dan keuntungan dikembalikan → Carried Interest dihitung → Keuntungan dibagikan.

Mari kita bahas satu per satu.


BAGIAN 1

APA ITU CAPITAL COMMITMENT?

Sebelum memahami Capital Call, kita harus memahami terlebih dahulu istilah Capital Commitment.

Capital Commitment adalah jumlah uang yang secara resmi dijanjikan investor untuk disediakan kepada sebuah private equity fund sesuai dengan perjanjian investasi.

Misalnya seorang investor mengatakan:

"Saya berkomitmen menanamkan modal sebesar Rp10 miliar ke private equity fund."

Ini tidak selalu berarti investor langsung mentransfer Rp10 miliar pada hari pertama.

Investor bisa saja membuat komitmen sebesar Rp10 miliar.

Kemudian fund manager akan meminta dana tersebut secara bertahap ketika diperlukan.

Misalnya:

Komitmen total: Rp10 miliar.

Capital Call pertama: Rp2 miliar.

Capital Call kedua: Rp3 miliar.

Capital Call ketiga: Rp2 miliar.

Capital Call keempat: Rp3 miliar.

Total yang akhirnya ditarik:

Rp10 miliar.

Jadi, Capital Commitment adalah janji atau komitmen modal, sedangkan Capital Call adalah permintaan penyetoran modal yang benar-benar harus dibayarkan sesuai ketentuan fund.


BAGIAN 2

APA ITU CAPITAL CALL?

Capital Call adalah proses ketika private equity fund meminta investor untuk menyetor sebagian atau seluruh dana yang sebelumnya telah mereka komitmenkan.

Bayangkan kamu berkomitmen:

Rp10 miliar.

Namun, private equity fund belum membutuhkan seluruh uang tersebut.

Pada tahun pertama, fund menemukan perusahaan menarik yang membutuhkan modal Rp2 miliar dari kamu.

Fund manager kemudian mengirimkan pemberitahuan Capital Call.

Isinya kurang lebih:

"Investor diminta menyetorkan Rp2 miliar sesuai komitmen investasi."

Kamu kemudian harus menyediakan dana tersebut sesuai jadwal dan ketentuan dalam dokumen fund.

Inilah Capital Call.


BAGIAN 3

MENGAPA PRIVATE EQUITY MENGGUNAKAN CAPITAL CALL?

Ada beberapa alasan.

Pertama, private equity fund tidak selalu mengetahui kapan investasi akan tersedia.

Misalnya fund memiliki target investasi:

Rp1 triliun.

Namun, mereka belum tentu menemukan perusahaan yang cocok pada hari pertama.

Jika seluruh dana langsung dikumpulkan dan tidak digunakan, uang tersebut mungkin hanya mengendap.

Dengan sistem Capital Call, fund dapat mengumpulkan komitmen dari investor terlebih dahulu.

Kemudian dana ditarik ketika investasi benar-benar diperlukan.

Model ini membuat pengelolaan modal menjadi lebih fleksibel.


BAGIAN 4

CONTOH CAPITAL CALL SEDERHANA

Bayangkan kamu berinvestasi di sebuah private equity fund.

Komitmenmu:

Rp20 miliar.

Fund manager mengatakan bahwa modal akan ditarik secara bertahap.

Tahun pertama:

Capital Call = Rp5 miliar.

Tahun kedua:

Capital Call = Rp7 miliar.

Tahun ketiga:

Capital Call = Rp5 miliar.

Tahun keempat:

Capital Call = Rp3 miliar.

Total:

Rp20 miliar.

Kamu tidak perlu langsung mengeluarkan seluruh Rp20 miliar pada awal investasi.

Namun, ada konsekuensi penting.

Kamu harus memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi Capital Call ketika diminta.

Jika kamu berkomitmen Rp20 miliar, tetapi ternyata ketika fund meminta dana kamu tidak memiliki uang, itu dapat menjadi masalah serius.


BAGIAN 5

CAPITAL CALL BUKAN INVESTASI BIASA

Ini adalah salah satu hal yang sering tidak dipahami investor pemula.

Jika kamu membeli saham senilai Rp20 juta, kamu biasanya hanya perlu membayar Rp20 juta saat transaksi.

Setelah transaksi selesai, tidak ada kewajiban tambahan.

Private equity bisa berbeda.

Jika kamu melakukan Capital Commitment sebesar Rp20 miliar, kamu harus memahami bahwa:

Komitmen tersebut dapat menciptakan kewajiban untuk menyediakan dana ketika Capital Call dilakukan.

Karena itu, investor harus memiliki perencanaan likuiditas.

Jangan menggunakan seluruh uang yang tersedia untuk investasi lain jika kamu masih memiliki komitmen Capital Call yang belum ditarik.


BAGIAN 6

RISIKO CAPITAL CALL

Misalnya kamu berkomitmen:

Rp50 miliar.

Fund manager baru menarik:

Rp10 miliar.

Artinya masih ada komitmen:

Rp40 miliar.

Kemudian kamu melihat peluang investasi lain.

Kamu menggunakan seluruh uang yang tersedia untuk membeli aset lain.

Beberapa bulan kemudian, fund melakukan Capital Call sebesar:

Rp15 miliar.

Kamu ternyata tidak memiliki dana yang cukup.

Situasi seperti ini bisa menimbulkan masalah.

Karena itu, investor private equity harus mengelola likuiditas dengan serius.

Capital Commitment yang belum ditarik bukan berarti kamu boleh menganggap uang tersebut sebagai uang bebas.

Kamu tetap harus mempersiapkan kemungkinan Capital Call.


BAGIAN 7

APA ITU MOIC?

Sekarang kita masuk ke istilah kedua.

MOIC adalah singkatan dari:

Multiple on Invested Capital.

Secara sederhana, MOIC mengukur berapa kali lipat nilai investasi dibandingkan modal yang telah diinvestasikan.

Misalnya kamu menginvestasikan:

Rp10 miliar.

Kemudian kamu menerima total:

Rp20 miliar.

Maka secara sederhana:

MOIC = 2x.

Artinya, nilai yang diterima investor setara dengan dua kali modal yang diinvestasikan.

Jika investasi Rp10 miliar menjadi Rp30 miliar:

MOIC = 3x.

Jika Rp10 miliar menjadi Rp5 miliar:

MOIC = 0,5x.

Jika Rp10 miliar tidak menghasilkan apa-apa dan hanya kembali Rp10 miliar:

MOIC = 1x.


BAGIAN 8

MEMAHAMI MOIC DENGAN CONTOH

Bayangkan sebuah private equity fund berinvestasi ke sebuah perusahaan.

Total modal yang diinvestasikan:

Rp100 miliar.

Lima tahun kemudian, perusahaan tersebut dijual.

Hasil yang diterima fund:

Rp250 miliar.

Secara sederhana:

Modal investasi = Rp100 miliar.

Hasil = Rp250 miliar.

MOIC = 2,5x.

Artinya, setiap Rp1 modal yang diinvestasikan menghasilkan nilai Rp2,50 secara total sebelum memperhitungkan struktur biaya dan distribusi tertentu.

Namun, penting:

MOIC tidak menunjukkan berapa cepat uang tersebut berkembang.

Ini adalah kelemahan jika MOIC digunakan sendirian.


BAGIAN 9

MOIC 2x TIDAK SELALU BERARTI SAMA

Bayangkan dua investasi.

Investasi A:

Modal Rp10 miliar.

Menjadi Rp20 miliar dalam 2 tahun.

MOIC = 2x.

Investasi B:

Modal Rp10 miliar.

Menjadi Rp20 miliar dalam 10 tahun.

MOIC = 2x.

Keduanya memiliki MOIC yang sama.

Namun, secara ekonomi, waktunya sangat berbeda.

Investor tentu lebih menyukai hasil yang sama dalam waktu lebih singkat, dengan asumsi risiko dan kondisi lainnya sebanding.

Karena itu, private equity sering menggunakan ukuran lain seperti IRR.


BAGIAN 10

MOIC VS IRR

MOIC menjawab:

"Berapa kali lipat uang saya berkembang?"

IRR mencoba menjawab:

"Seberapa cepat investasi tersebut menghasilkan tingkat pengembalian berdasarkan waktu arus kas?"

Contoh:

Investasi Rp10 miliar menjadi Rp20 miliar.

MOIC:

2x.

Namun, jika hasil tersebut diperoleh dalam:

2 tahun.

Maka situasinya berbeda dengan jika diperoleh dalam:

10 tahun.

MOIC tetap 2x.

Tetapi IRR akan berbeda.

Karena itu, ketika melihat performa private equity, jangan hanya melihat satu angka.

Lihat:

MOIC.

IRR.

Durasi investasi.

Total modal yang benar-benar ditarik.

Dan total distribusi.


BAGIAN 11

GROSS MOIC DAN NET MOIC

Ini sangat penting.

Ada perbedaan antara:

Gross MOIC.

Dan Net MOIC.

Gross MOIC biasanya menunjukkan hasil investasi sebelum memperhitungkan seluruh biaya dan fee yang dibebankan kepada investor.

Net MOIC lebih relevan bagi investor karena berusaha mencerminkan apa yang akhirnya diterima investor setelah biaya tertentu diperhitungkan.

Misalnya:

Gross MOIC = 3x.

Setelah biaya dan fee:

Net MOIC = 2,4x.

Investor harus memperhatikan angka net.

Karena investor tidak hidup dari return "di atas kertas".

Investor mendapatkan uang yang benar-benar masuk ke rekeningnya.


BAGIAN 12

APA ITU CARRIED INTEREST?

Sekarang kita masuk ke istilah ketiga.

Carried Interest, sering disebut carry, adalah bagian keuntungan investasi yang diberikan kepada fund manager atau sponsor berdasarkan kinerja investasi fund sesuai struktur yang telah disepakati.

Secara sederhana:

Investor menyediakan modal.

Fund manager mengelola investasi.

Jika investasi menghasilkan keuntungan sesuai ketentuan, fund manager dapat memperoleh bagian dari keuntungan tersebut.

Inilah yang disebut carried interest.

Carried interest merupakan salah satu mekanisme untuk menyelaraskan kepentingan fund manager dengan investor.

Jika investasi berhasil, manager ikut mendapatkan keuntungan.

Jika investasi gagal, manager juga dapat kehilangan kesempatan mendapatkan carry.

Namun, struktur sebenarnya sangat bergantung pada dokumen fund.


BAGIAN 13

CONTOH CARRIED INTEREST PALING SEDERHANA

Bayangkan:

Investor memasukkan modal:

Rp100 miliar.

Setelah investasi selesai, fund mendapatkan:

Rp150 miliar.

Keuntungan:

Rp50 miliar.

Misalnya struktur carry adalah:

20%.

Jika secara sederhana seluruh keuntungan tersebut menjadi dasar perhitungan carry, maka:

20% × Rp50 miliar = Rp10 miliar.

Maka secara ilustrasi:

Keuntungan investor = Rp40 miliar.

Carried interest untuk manager = Rp10 miliar.

Namun, ini hanyalah contoh paling sederhana.

Dalam dunia nyata, perhitungan carry dapat jauh lebih kompleks.

Ada kemungkinan terdapat:

Preferred return.

Hurdle rate.

Catch-up.

Waterfall.

Clawback.

Dan berbagai ketentuan lain.


BAGIAN 14

APA ITU HURDLE RATE?

Hurdle rate adalah tingkat pengembalian minimum tertentu yang biasanya harus dicapai investor sebelum fund manager berhak memperoleh carried interest berdasarkan struktur tertentu.

Misalnya:

Investor memberikan modal Rp100 miliar.

Hurdle rate:

8%.

Secara sederhana, fund mungkin harus terlebih dahulu memberikan hasil sesuai ketentuan kepada investor sebelum carry dibagikan.

Namun, struktur hurdle rate berbeda-beda.

Ada yang menggunakan:

Hard hurdle.

Soft hurdle.

Dan mekanisme lainnya.

Karena itu, investor harus membaca dokumen fund.


BAGIAN 15

APA ITU PREFERRED RETURN?

Preferred return atau preferred return hurdle adalah mekanisme yang memberikan prioritas tertentu kepada investor untuk menerima pengembalian modal dan/atau tingkat return tertentu sebelum fund manager memperoleh bagian carry sesuai waterfall.

Misalnya secara sederhana:

Investor memasukkan:

Rp100 miliar.

Fund menghasilkan:

Rp130 miliar.

Investor mungkin memiliki hak untuk menerima modal awal terlebih dahulu.

Setelah itu, investor dapat memperoleh preferred return sesuai ketentuan.

Baru kemudian sisa keuntungan dibagikan sesuai waterfall.

Sekali lagi, struktur aktual sangat bergantung pada dokumen investasi.


BAGIAN 16

APA ITU WATERFALL?

Waterfall adalah mekanisme pembagian uang dari hasil investasi.

Bayangkan fund menjual perusahaan.

Hasil penjualan:

Rp500 miliar.

Uang tersebut kemudian dibagikan melalui beberapa tahap.

Contoh sederhana:

Tahap 1:

Mengembalikan modal investor.

Tahap 2:

Memberikan preferred return jika ada.

Tahap 3:

Membayar catch-up kepada manager jika berlaku.

Tahap 4:

Sisa keuntungan dibagi antara investor dan manager sesuai persentase carry.

Struktur seperti ini disebut waterfall.

Mengapa disebut waterfall?

Karena uang mengalir dari satu tingkat ke tingkat berikutnya sesuai aturan.


BAGIAN 17

CONTOH WATERFALL SEDERHANA

Bayangkan:

Investor menanamkan:

Rp100 miliar.

Hasil exit:

Rp200 miliar.

Keuntungan:

Rp100 miliar.

Misalnya:

Preferred return = Rp20 miliar.

Maka investor mendapatkan:

Pengembalian modal Rp100 miliar.

Kemudian preferred return Rp20 miliar.

Masih ada:

Rp80 miliar.

Kemudian sisa keuntungan dapat dibagi sesuai struktur carry.

Jika carry 20%:

Manager mungkin mendapatkan bagian tertentu dari keuntungan sesuai waterfall.

Investor menerima sisanya.

Tetapi perlu ditekankan:

Ini hanya ilustrasi.

Waterfall sebenarnya bisa sangat berbeda.


BAGIAN 18

APA ITU CATCH-UP?

Catch-up adalah mekanisme yang memungkinkan fund manager mendapatkan bagian keuntungan tertentu setelah investor menerima preferred return, sampai manager mencapai persentase carry yang disepakati.

Contoh sederhana.

Investor memiliki preferred return.

Setelah investor menerima return tersebut, manager mendapatkan bagian keuntungan tertentu dalam tahap catch-up.

Setelah catch-up selesai, keuntungan berikutnya dibagi sesuai rasio carry.

Struktur ini dirancang agar pembagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan ekonomi antara investor dan manager.


BAGIAN 19

APA ITU CLAWBACK?

Clawback adalah mekanisme yang dapat mengharuskan fund manager mengembalikan sebagian carry yang sebelumnya telah diterima jika pada akhir masa fund ternyata pembagian keuntungan sebelumnya menyebabkan manager menerima terlalu banyak dibandingkan hak akhirnya.

Ini penting karena private equity biasanya memiliki banyak investasi.

Bayangkan:

Investasi pertama sangat sukses.

Manager mendapatkan carry.

Kemudian investasi berikutnya gagal besar.

Ketika seluruh portofolio dihitung pada akhir fund, ternyata carry yang diterima manager sebelumnya terlalu besar.

Mekanisme clawback dapat digunakan untuk mengoreksi kondisi tersebut sesuai ketentuan perjanjian.


BAGIAN 20

HUBUNGAN CAPITAL CALL, MOIC, DAN CARRIED INTEREST

Sekarang kita gabungkan ketiga konsep.

Misalnya:

Investor berkomitmen:

Rp100 miliar.

Kemudian fund melakukan Capital Call:

Rp60 miliar.

Artinya investor benar-benar menyetor Rp60 miliar sampai tahap tersebut.

Fund kemudian menggunakan modal untuk membeli beberapa perusahaan.

Beberapa tahun kemudian, perusahaan-perusahaan tersebut dijual.

Total hasil investasi:

Rp150 miliar.

Secara sederhana:

Modal yang ditarik = Rp60 miliar.

Hasil = Rp150 miliar.

MOIC sederhana:

2,5x.

Kemudian, berdasarkan struktur fund, keuntungan tersebut dihitung.

Fund manager dapat memperoleh carried interest sesuai mekanisme waterfall.

Jadi:

Capital Call menentukan kapan modal ditarik.

MOIC mengukur berapa kali lipat modal berkembang.

Carried Interest menentukan bagaimana sebagian keuntungan dialokasikan kepada fund manager berdasarkan struktur yang disepakati.

Ketiganya merupakan bagian penting dalam ekonomi private equity.


BAGIAN 21

CONTOH BESAR DARI AWAL SAMPAI AKHIR

Sekarang kita buat simulasi yang lebih lengkap.

Bayangkan sebuah private equity fund memiliki:

10 investor.

Masing-masing memiliki komitmen:

Rp10 miliar.

Total Capital Commitment:

Rp100 miliar.

Namun, fund tidak langsung menarik seluruh dana.

Tahun pertama

Capital Call:

Rp30 miliar.

Dana digunakan untuk membeli perusahaan A.

Tahun kedua

Capital Call:

Rp20 miliar.

Dana digunakan untuk membeli perusahaan B.

Tahun ketiga

Capital Call:

Rp20 miliar.

Dana digunakan untuk membeli perusahaan C.

Tahun keempat

Capital Call:

Rp10 miliar.

Dana digunakan untuk ekspansi perusahaan.

Total modal yang ditarik:

Rp80 miliar.

Masih ada commitment:

Rp20 miliar.

Kemudian fund melakukan exit.

Perusahaan A dijual.

Perusahaan B dijual.

Perusahaan C dijual.

Total hasil yang diterima fund:

Rp200 miliar.

Secara sederhana:

Modal ditarik:

Rp80 miliar.

Hasil:

Rp200 miliar.

MOIC:

2,5x.

Namun, investor belum tentu menerima seluruh Rp200 miliar.

Mengapa?

Karena ada:

Biaya.

Management fee.

Carried interest.

Dan kemungkinan mekanisme lainnya.

Setelah semua perhitungan dilakukan, investor menerima distribusi bersih sesuai struktur fund.

Inilah yang membuat investor harus memahami perbedaan:

Gross return.

Dan net return.


BAGIAN 22

CAPITAL CALL DAN MOIC TIDAK SELALU MENGGUNAKAN TOTAL COMMITMENT

Ini bagian yang sangat penting.

Misalnya kamu berkomitmen:

Rp100 miliar.

Namun fund hanya menarik:

Rp70 miliar.

Kemudian investasi menghasilkan:

Rp175 miliar.

Perhitungan MOIC bisa berbeda tergantung definisi yang digunakan dan apakah biaya serta arus kas tertentu diperhitungkan.

Karena itu, investor harus melihat laporan fund secara detail.

Jangan hanya mengambil:

Total Commitment.

Kemudian langsung membaginya dengan total distribusi.

Yang harus diperhatikan adalah:

Paid-in capital.

Called capital.

Uncalled commitment.

Distributions.

NAV.

Dan biaya.


BAGIAN 23

APA ITU UNCALLED COMMITMENT?

Uncalled commitment adalah bagian dari Capital Commitment yang belum ditarik oleh fund.

Contoh:

Commitment:

Rp100 miliar.

Capital Call yang sudah dilakukan:

Rp60 miliar.

Maka secara sederhana:

Uncalled commitment:

Rp40 miliar.

Namun, Rp40 miliar tersebut bukan berarti sudah menjadi keuntungan.

Itu adalah komitmen yang mungkin masih dapat dipanggil sesuai dokumen fund.

Investor harus siap jika Capital Call dilakukan.


BAGIAN 24

KENAPA PRIVATE EQUITY MEMBUTUHKAN INVESTOR YANG SABAR?

Private equity membutuhkan waktu.

Misalnya:

Tahun 1:

Fundraising.

Tahun 2:

Capital Call.

Tahun 3:

Akuisisi.

Tahun 4:

Restrukturisasi.

Tahun 5:

Ekspansi.

Tahun 6:

Pertumbuhan.

Tahun 7:

Exit.

Tahun 8:

Distribusi.

Investor harus bersabar.

Tidak seperti saham publik yang dapat dilihat harganya setiap hari, private equity memiliki siklus investasi yang lebih panjang.

Karena itu, private equity lebih cocok untuk modal jangka panjang.


BAGIAN 25

APAKAH MOIC 3X BERARTI UANG PASTI TIGA KALI LIPAT?

Tidak.

MOIC adalah ukuran kinerja investasi.

Bukan janji keuntungan.

Jika sebuah fund memiliki target MOIC 3x, itu bukan berarti investor pasti mendapatkan 3x.

Target dapat gagal tercapai.

Bahkan investasi dapat mengalami kerugian.

Misalnya:

Target:

3x.

Realisasi:

1,2x.

Atau:

0,8x.

Atau bahkan:

0x.

Itulah risiko private equity.


BAGIAN 26

APAKAH CARRIED INTEREST SELALU 20%?

Tidak.

20% sering digunakan sebagai contoh atau struktur yang umum dikenal dalam industri, tetapi bukan aturan universal.

Bisa saja berbeda.

Misalnya:

10%.

15%.

20%.

25%.

Atau struktur lainnya.

Selain itu, carry dapat dihitung dengan mekanisme yang berbeda.

Karena itu, jangan menganggap semua private equity fund menggunakan skema yang sama.


BAGIAN 27

SIAPA YANG MEMBAYAR CARRIED INTEREST?

Secara ekonomi, carried interest berasal dari keuntungan investasi fund dan menjadi bagian dari pembagian keuntungan sesuai perjanjian.

Investor menyediakan modal.

Fund manager mengelola investasi.

Jika investasi menghasilkan keuntungan dan syarat carry terpenuhi, manager mendapatkan bagian keuntungan.

Ini berbeda dengan management fee.

Management fee biasanya merupakan biaya pengelolaan yang dikenakan sesuai struktur fund.

Carried interest lebih terkait dengan performa dan keuntungan investasi.


BAGIAN 28

MANAGEMENT FEE VS CARRIED INTEREST

Bayangkan sebuah fund.

Management fee digunakan untuk membantu membiayai operasional fund.

Misalnya:

Gaji tim.

Riset.

Kantor.

Legal.

Administrasi.

Sedangkan carried interest merupakan bagian keuntungan yang diberikan kepada manager berdasarkan kinerja investasi sesuai mekanisme yang disepakati.

Secara sederhana:

Management Fee = biaya pengelolaan.

Carried Interest = bagian keuntungan berbasis kinerja.

Keduanya berbeda.


BAGIAN 29

MENGAPA INVESTOR MAU MEMBAYAR CARRY?

Karena investor berharap fund manager dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar daripada jika modal dikelola sendiri.

Misalnya investor memiliki:

Rp100 miliar.

Investor dapat menginvestasikannya sendiri.

Namun, ia mungkin tidak memiliki:

Tim.

Jaringan.

Pengalaman.

Kemampuan mencari perusahaan.

Kemampuan melakukan due diligence.

Kemampuan melakukan restrukturisasi.

Atau akses transaksi.

Fund manager memiliki semua itu.

Jika manager berhasil meningkatkan nilai perusahaan, investor bersedia memberikan bagian keuntungan sesuai kesepakatan.

Inilah salah satu alasan mengapa carried interest dapat menjadi insentif.


BAGIAN 30

APA YANG HARUS DIPERHATIKAN INVESTOR?

Jika kamu ingin berinvestasi di private equity, jangan hanya bertanya:

"Berapa target MOIC?"

Tanyakan juga:

Berapa net MOIC historis?

Berapa gross MOIC?

Berapa IRR?

Berapa lama rata-rata investasi?

Berapa banyak investasi yang gagal?

Bagaimana struktur Capital Call?

Berapa uncalled commitment?

Bagaimana waterfall?

Berapa carry?

Apakah ada hurdle?

Apakah ada catch-up?

Apakah ada clawback?

Berapa management fee?

Bagaimana exit?

Dan bagaimana likuiditas?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada hanya melihat angka return yang besar.


BAGIAN 31

KESIMPULAN

Private equity memiliki mekanisme yang berbeda dari investasi publik.

Tiga konsep yang sangat penting untuk dipahami adalah:

Capital Call.

MOIC.

Carried Interest.

Capital Call adalah proses ketika fund meminta investor menyetor modal yang sebelumnya telah mereka komitmenkan.

MOIC menunjukkan berapa kali lipat nilai investasi dibandingkan modal yang diinvestasikan.

Carried Interest adalah bagian keuntungan yang dapat diterima fund manager berdasarkan kinerja investasi dan struktur pembagian keuntungan yang disepakati.

Ketiganya dapat digambarkan seperti ini:

Capital Commitment ↓ Investor berkomitmen menyediakan modal ↓ Capital Call ↓ Modal ditarik secara bertahap ↓ Fund melakukan investasi ↓ Perusahaan berkembang ↓ Exit ↓ Fund mendapatkan hasil penjualan ↓ MOIC dihitung ↓ Keuntungan dibagikan sesuai waterfall ↓ Carried Interest ↓ Fund manager mendapatkan bagian keuntungan sesuai ketentuan ↓ Investor menerima distribusi bersih

Inilah gambaran sederhana bagaimana uang bergerak dalam private equity.

Namun, dunia private equity jauh lebih kompleks daripada contoh sederhana.

Investor harus memahami:

Biaya.

Pajak.

Likuiditas.

Risiko perusahaan.

Risiko fund manager.

Struktur leverage.

Valuasi.

Capital Call.

Uncalled Commitment.

Waterfall.

Preferred Return.

Hurdle Rate.

Catch-up.

Clawback.

Dan mekanisme exit.

Satu hal yang paling penting adalah:

Jangan hanya melihat return.

Investasi yang menghasilkan MOIC tinggi tetapi membutuhkan waktu sangat lama belum tentu lebih menarik daripada investasi dengan MOIC lebih rendah tetapi menghasilkan return lebih cepat, jika risiko dan kondisi lainnya sebanding.

Begitu juga dengan Capital Commitment.

Komitmen modal yang besar dapat terlihat menarik karena memberikan akses ke investasi besar.

Namun, investor harus memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi Capital Call.

Dan carried interest harus dipahami karena dapat memengaruhi berapa banyak keuntungan yang akhirnya diterima investor dan berapa banyak yang dialokasikan kepada fund manager.

Jadi, jika kamu ingin memahami cara kerja private equity seperti seorang investor profesional, gunakan tiga pertanyaan sederhana:

Pertama: Berapa modal yang benar-benar saya keluarkan?

Ini berkaitan dengan Capital Call dan Paid-in Capital.

Kedua: Berapa nilai yang saya dapatkan dibandingkan modal saya?

Ini berkaitan dengan MOIC.

Ketiga: Bagaimana keuntungan tersebut dibagi antara investor dan fund manager?

Ini berkaitan dengan Carried Interest dan Waterfall.

Jika kamu memahami tiga pertanyaan tersebut, kamu sudah memiliki fondasi yang jauh lebih kuat untuk memahami ekonomi private equity.

Pada akhirnya, private equity bukan sekadar tentang menaruh uang dan menunggu kaya.

Ini adalah permainan modal jangka panjang.

Investor menyediakan modal.

Fund manager menyediakan keahlian dan akses.

Perusahaan menjadi tempat modal tersebut bekerja.

Capital Call menyediakan mekanisme pendanaan.

MOIC mengukur hasil investasi.

Dan Carried Interest menjadi salah satu cara untuk memberikan insentif kepada fund manager ketika investasi berhasil.

Namun, semua itu harus dilihat bersama dengan risiko.

Karena dalam investasi, angka keuntungan yang terlihat besar tidak pernah berdiri sendiri.

Di balik setiap potensi return terdapat:

Risiko.

Waktu.

Likuiditas.

Biaya.

Dan ketidakpastian.

Itulah sebabnya investor profesional tidak hanya bertanya:

"Berapa saya bisa untung?"

Mereka juga bertanya:

"Berapa yang bisa saya rugikan?"

"Berapa lama uang saya terkunci?"

"Kapan saya harus menyediakan modal?"

"Siapa yang mengelola uang saya?"

"Bagaimana keuntungan dibagi?"

"Berapa yang benar-benar masuk ke kantong saya setelah semua biaya?"

Ketika kamu mulai berpikir dengan cara tersebut, kamu tidak lagi hanya melihat private equity sebagai investasi untuk orang kaya.

Kamu mulai memahami bagaimana sebuah sistem investasi profesional bekerja.

Dan pada akhirnya, itulah inti dari private equity:

Mengubah modal menjadi kepemilikan bisnis, mengembangkan bisnis tersebut dalam jangka panjang, kemudian mengubah pertumbuhan nilai bisnis menjadi keuntungan bagi investor dan fund manager sesuai struktur yang telah disepakati.

Komentar

Postingan Populer