Cara Menentukan Produk yang Laku Dijual Online dan Dicari Banyak Orang
Cara Menentukan Produk yang Laku Dijual Online dan Dicari Banyak Orang
Menentukan produk yang laku dijual online merupakan salah satu langkah paling penting sebelum memulai bisnis. Banyak orang langsung membeli stok barang karena melihat produk tertentu sedang viral, tetapi akhirnya barang menumpuk karena permintaan ternyata tidak bertahan lama.
Sebaliknya, penjual yang melakukan riset terlebih dahulu memiliki peluang lebih besar untuk menemukan produk yang benar-benar dibutuhkan pasar.
Produk yang bagus untuk dijual online bukan selalu produk yang paling viral. Produk yang menarik justru biasanya memiliki kombinasi antara permintaan pasar, margin keuntungan, target pelanggan yang jelas, tingkat persaingan yang masih masuk akal, mudah dipasarkan, dan mampu memberikan solusi kepada konsumen.
Karena itu, sebelum membeli stok atau mengeluarkan modal besar, kamu perlu mengetahui cara menentukan produk yang laku dijual online dan dicari banyak orang.
Artikel ini membahas langkah lengkap mulai dari mencari ide produk, melakukan riset pasar, melihat tren, menganalisis kompetitor, menghitung keuntungan, melakukan validasi, hingga menentukan produk yang layak dijual secara online.
Mengapa Memilih Produk yang Tepat Sangat Penting?
Dalam bisnis online, produk adalah salah satu fondasi utama.
Kamu dapat memiliki:
- Website yang bagus.
- Foto produk profesional.
- Ribuan follower.
- Iklan yang menarik.
- Marketplace dengan tampilan profesional.
Namun jika produk yang dijual tidak memiliki permintaan, penjualan tetap akan sulit.
Sebaliknya, produk yang benar-benar dibutuhkan pasar dapat lebih mudah dipasarkan.
Contohnya, seseorang mungkin menghabiskan banyak uang untuk membuat iklan produk yang tidak terlalu dibutuhkan.
Hasilnya:
Iklan mendapatkan views, tetapi penjualan rendah.
Masalahnya bukan selalu pada iklan.
Bisa jadi masalah utamanya adalah product-market fit, yaitu kesesuaian antara produk yang ditawarkan dengan kebutuhan pasar.
Karena itu, sebelum memikirkan cara menjual, pikirkan terlebih dahulu:
"Apakah ada orang yang benar-benar membutuhkan produk ini?"
Apa Ciri-Ciri Produk yang Laku Dijual Online?
Tidak ada produk yang dijamin pasti laku.
Namun ada beberapa karakteristik yang dapat meningkatkan peluang.
Produk yang menarik untuk diuji biasanya memiliki beberapa ciri berikut:
- Memiliki kebutuhan atau permintaan.
- Memiliki target pelanggan yang jelas.
- Menyelesaikan masalah.
- Harganya sesuai dengan target pasar.
- Mudah dijelaskan.
- Mudah dipasarkan melalui konten.
- Memiliki margin yang masuk akal.
- Tidak terlalu sulit dikirim.
- Memiliki potensi pembelian ulang.
- Bisa dibedakan dari kompetitor.
- Memiliki kualitas yang dapat dipertahankan.
- Tidak bergantung sepenuhnya pada tren sesaat.
Semakin banyak karakteristik tersebut dimiliki sebuah produk, semakin menarik produk tersebut untuk diuji.
1. Mulai dari Masalah, Bukan dari Produk
Kesalahan umum pemula adalah memulai dengan pertanyaan:
"Saya harus jual apa?"
Cobalah mengubah pertanyaan menjadi:
"Masalah apa yang sering dialami orang?"
Misalnya:
Orang sulit mengatur keuangan → produk atau layanan budgeting.
Pemilik bisnis kesulitan membuat konten → jasa content creation.
Orang membutuhkan penyimpanan barang → produk organizer.
Mahasiswa membutuhkan perlengkapan belajar → produk pendukung pendidikan.
Pemilik kendaraan ingin menjaga kebersihan → produk perawatan kendaraan.
Ketika kamu mulai dari masalah, kamu memiliki lebih banyak peluang untuk menemukan produk.
2. Cari Produk yang Menyelesaikan Masalah
Produk yang menyelesaikan masalah biasanya lebih mudah dijelaskan manfaatnya.
Misalnya produk:
Organizer kabel.
Jangan hanya mengatakan:
"Organizer kabel berkualitas."
Jelaskan masalah:
"Membantu merapikan kabel charger, kabel laptop, dan kabel elektronik agar tidak berantakan."
Pelanggan dapat langsung memahami manfaatnya.
Semakin jelas masalah yang diselesaikan, semakin mudah membuat konten dan penawaran.
3. Perhatikan Produk yang Sering Dicari
Salah satu cara mengetahui minat pasar adalah melihat apa yang sering dicari orang.
Perhatikan pencarian yang berhubungan dengan:
- Produk.
- Masalah.
- Kategori.
- Harga.
- Review.
- Perbandingan.
- Cara penggunaan.
Misalnya seseorang mencari:
"tas laptop murah"
Itu menunjukkan adanya orang yang sedang mencari kategori produk tertentu.
Namun jangan hanya melihat volume pencarian.
Kamu juga harus melihat:
Apakah pencarian tersebut memiliki niat membeli?
4. Bedakan Search Intent
Tidak semua pencarian berarti seseorang ingin membeli.
Misalnya:
"Apa itu sepatu running?"
Ini lebih bersifat informasional.
Sementara:
"Harga sepatu running pria"
memiliki niat komersial yang lebih kuat.
Kemudian:
"Beli sepatu running pria ukuran 42"
memiliki niat transaksi yang lebih tinggi.
Dalam riset produk online, keyword dengan niat komersial dapat menjadi sinyal yang menarik.
5. Gunakan Marketplace untuk Riset Produk
Marketplace dapat menjadi sumber informasi mengenai perilaku pembeli.
Perhatikan kategori produk yang relevan dan lihat:
- Jumlah penjualan.
- Review.
- Pertanyaan pelanggan.
- Harga.
- Variasi produk.
- Produk yang sering muncul.
- Keluhan pembeli.
Jangan hanya melihat produk yang memiliki penjualan tinggi.
Baca juga review negatif.
Karena review negatif sering memberikan informasi mengenai:
Apa yang belum dilakukan dengan baik oleh kompetitor.
6. Pelajari Review Pelanggan
Review pelanggan adalah sumber ide yang sangat berharga.
Misalnya kamu menemukan banyak pelanggan mengatakan:
"Produknya bagus, tetapi ukurannya terlalu kecil."
Itu dapat menjadi peluang.
Kamu dapat mencari produk dengan ukuran yang lebih sesuai.
Atau pelanggan mengatakan:
"Barang bagus, tetapi kemasannya mudah rusak."
Kamu dapat membuat sistem packaging yang lebih baik.
Atau:
"Harganya murah, tetapi kualitas kurang."
Ini bisa menunjukkan adanya peluang untuk produk dengan positioning lebih premium.
7. Cari Keluhan yang Berulang
Jangan hanya mencari apa yang disukai pelanggan.
Cari apa yang membuat mereka kecewa.
Misalnya:
- Pengiriman lama.
- Kemasan buruk.
- Produk mudah rusak.
- Ukuran tidak jelas.
- Foto tidak sesuai.
- Customer service lambat.
- Tidak ada panduan penggunaan.
Jika masalah tersebut sering muncul, mungkin ada peluang untuk memberikan pengalaman yang lebih baik.
8. Jangan Takut dengan Kompetitor
Banyak pemula berpikir:
"Produk ini sudah banyak yang menjual, berarti tidak bisa dijual."
Tidak selalu benar.
Adanya banyak penjual dapat menunjukkan bahwa ada permintaan.
Yang perlu kamu cari adalah:
Bagaimana saya bisa berbeda?
Perbedaan dapat berupa:
- Harga.
- Kualitas.
- Desain.
- Packaging.
- Pelayanan.
- Target pasar.
- Bundling.
- Konten.
- Kecepatan.
- Garansi.
- Spesialisasi.
9. Cari Celah di Antara Kompetitor
Misalnya pasar memiliki tiga jenis penjual.
Penjual A:
Harga murah, kualitas standar.
Penjual B:
Harga menengah, kualitas baik.
Penjual C:
Harga mahal, kualitas premium.
Kamu tidak harus masuk dengan harga termurah.
Kamu bisa mencari celah lain.
Misalnya:
Produk berkualitas baik + packaging premium + edukasi penggunaan + pelayanan cepat.
Ini menciptakan positioning yang berbeda.
10. Jangan Terjebak Produk Viral
Produk viral memang dapat menghasilkan penjualan besar.
Namun ada risiko.
Ketika sebuah produk viral:
- Banyak orang ikut menjual.
- Kompetisi meningkat.
- Harga turun.
- Margin mengecil.
- Biaya iklan meningkat.
- Tren dapat berakhir.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
"Apakah produk ini sedang viral?"
Tanyakan juga:
"Apakah produk ini masih dibutuhkan setelah tren berakhir?"
Jika jawabannya iya, produk tersebut lebih menarik untuk dipertimbangkan sebagai bisnis jangka panjang.
11. Bedakan Produk Evergreen dan Produk Tren
Produk Evergreen
Produk yang kebutuhannya cenderung tetap ada.
Contohnya dapat mencakup:
- Perlengkapan rumah.
- Produk pendidikan.
- Produk kebutuhan kerja.
- Produk perawatan tertentu.
- Peralatan sehari-hari.
Produk Tren
Produk yang popularitasnya sangat dipengaruhi tren.
Misalnya:
- Barang viral.
- Produk yang muncul karena tren media sosial.
- Produk musiman tertentu.
Produk tren bukan berarti buruk.
Tetapi risikonya berbeda.
Jika tujuanmu membangun bisnis jangka panjang, pertimbangkan produk yang memiliki kebutuhan lebih stabil.
12. Perhatikan Produk yang Dibeli Berulang Kali
Produk dengan potensi repeat order dapat menjadi menarik.
Contohnya kategori yang digunakan secara rutin.
Jika pelanggan membeli produk sekali lalu selesai, kamu harus terus mencari pelanggan baru.
Jika pelanggan membutuhkan produk secara berkala, ada peluang membangun hubungan jangka panjang.
Namun jangan memaksakan repeat order.
Produk harus memang memiliki alasan penggunaan ulang.
13. Hitung Margin Keuntungan Sebelum Membeli Stok
Produk yang laku belum tentu menguntungkan.
Misalnya:
Harga jual:
Rp100.000
Harga beli:
Rp70.000
Margin kotor:
Rp30.000
Tetapi masih ada:
- Biaya marketplace.
- Packaging.
- Subsidi pengiriman.
- Iklan.
- Refund.
- Kerusakan.
- Operasional.
Setelah semua biaya dihitung, keuntungan mungkin jauh lebih kecil.
Karena itu:
Penjualan tinggi tidak selalu berarti keuntungan tinggi.
14. Hitung Semua Biaya
Sebelum menentukan produk, buat perhitungan sederhana.
Misalnya:
Harga jual: Rp150.000
Harga produk: Rp80.000
Packaging: Rp5.000
Biaya transaksi: Rp5.000
Biaya iklan rata-rata: Rp20.000
Maka:
Rp150.000 − Rp80.000 − Rp5.000 − Rp5.000 − Rp20.000
= Rp40.000
Angka tersebut belum tentu merupakan laba bersih final karena masih mungkin ada biaya lain.
Tetapi perhitungan seperti ini membantu melihat apakah produk layak dijual.
15. Hindari Produk dengan Margin Terlalu Tipis
Margin tipis membuat bisnis lebih rentan.
Jika biaya iklan naik sedikit saja, keuntungan bisa hilang.
Jika terjadi retur, profit dapat semakin kecil.
Jika kompetitor menurunkan harga, kamu mungkin kesulitan bersaing.
Karena itu, cari keseimbangan antara:
Harga yang diterima pelanggan + margin yang sehat + biaya operasional.
16. Pertimbangkan Ukuran dan Berat Produk
Bisnis online sangat dipengaruhi logistik.
Produk yang:
- Sangat berat.
- Mudah pecah.
- Terlalu besar.
- Sulit dikemas.
dapat memiliki biaya operasional lebih tinggi.
Untuk pemula, produk yang relatif:
- Ringan.
- Tidak mudah rusak.
- Mudah dikemas.
- Mudah disimpan.
dapat lebih mudah dikelola.
Namun hal tersebut bukan aturan mutlak.
Produk berat juga dapat menjadi bisnis yang bagus jika margin dan sistem logistiknya sesuai.
17. Perhatikan Risiko Pengiriman
Sebelum memilih produk, tanyakan:
Apakah produk mudah rusak?
Jika iya, kamu membutuhkan packaging yang lebih baik.
Tanyakan juga:
Apakah bentuk produk mudah berubah?
Apakah produk sensitif terhadap panas?
Apakah membutuhkan penyimpanan khusus?
Semakin kompleks logistiknya, semakin banyak hal yang harus diperhitungkan.
18. Pilih Produk yang Mudah Didemonstrasikan
Produk yang mudah ditunjukkan melalui video dapat memiliki keuntungan dalam pemasaran.
Misalnya produk yang:
- Menunjukkan before-after.
- Memiliki cara penggunaan menarik.
- Memecahkan masalah.
- Memiliki transformasi.
- Memiliki fitur yang mudah diperlihatkan.
Konten seperti ini dapat membantu calon pelanggan memahami produk.
19. Gunakan Konten untuk Menguji Minat
Sebelum membeli stok banyak, kamu dapat membuat konten mengenai kategori produk.
Misalnya kamu tertarik menjual organizer meja.
Buat konten:
"5 penyebab meja kerja cepat berantakan."
Jika konten mendapatkan respons bagus, kamu mendapatkan sinyal awal bahwa topik tersebut menarik.
Namun jangan menganggap views otomatis berarti pembelian.
Gunakan hasil konten sebagai salah satu sinyal, bukan satu-satunya bukti.
20. Lakukan Pre-Order untuk Validasi
Jika memungkinkan, gunakan sistem pre-order untuk menguji minat sebelum membeli stok dalam jumlah besar.
Keuntungannya:
- Mengurangi risiko stok.
- Mengetahui minat pasar.
- Mendapatkan feedback.
- Menguji harga.
Tetapi jelaskan waktu pengiriman secara transparan.
Jangan membuat pelanggan menunggu tanpa informasi.
21. Uji Produk dengan Stok Kecil
Jika pre-order tidak sesuai dengan model bisnis, gunakan stok kecil.
Misalnya kamu awalnya ingin membeli:
500 unit.
Jangan langsung membeli semuanya.
Pertimbangkan menguji:
20–50 unit, sesuai modal dan karakter produk.
Jika produk mendapatkan respons bagus, kamu dapat melakukan restock.
Strategi ini membantu mengurangi risiko.
22. Gunakan Prinsip Test Before Scale
Ini salah satu prinsip penting dalam bisnis online.
Test before scale berarti menguji sebelum memperbesar.
Contohnya:
Produk → uji 20 unit.
Konten → uji 10 video.
Iklan → uji anggaran kecil.
Harga → uji beberapa penawaran.
Target pasar → uji beberapa segmen.
Setelah menemukan sesuatu yang bekerja, barulah pertimbangkan meningkatkan skala.
23. Perhatikan Rasio Penjualan dan Review
Jika sebuah produk memiliki banyak pembeli dan banyak review positif, itu dapat menjadi sinyal permintaan.
Namun jangan langsung menyimpulkan:
"Kalau kompetitor laku, saya pasti laku."
Kompetitor mungkin memiliki:
- Brand kuat.
- Harga lebih rendah.
- Followers besar.
- Ranking marketplace.
- Banyak review.
- Budget iklan besar.
Karena itu, gunakan data kompetitor sebagai referensi, bukan jaminan.
24. Cari Produk yang Memiliki Potensi Bundling
Bundling dapat meningkatkan nilai transaksi.
Misalnya kamu menjual:
Notebook.
Kamu dapat menawarkan:
- Notebook.
- Pulpen.
- Sticker.
- Bookmark.
Menjadi satu paket.
Bundling dapat membantu menciptakan penawaran yang lebih berbeda dibandingkan hanya menjual produk satuan.
25. Pertimbangkan Produk Pelengkap
Salah satu strategi bagus adalah menjual produk yang saling melengkapi.
Misalnya:
Pembeli laptop mungkin membutuhkan:
- Sleeve.
- Mouse.
- Keyboard.
- Stand.
- Cleaning kit.
Jika pelanggan membeli produk utama, kamu memiliki peluang menawarkan produk pelengkap yang relevan.
Ini disebut cross-selling.
26. Pertimbangkan Upselling
Upselling berarti menawarkan versi yang lebih sesuai atau lebih tinggi nilainya.
Contohnya:
Basic:
Produk standar.
Premium:
Material lebih baik + fitur tambahan.
Namun jangan membuat pelanggan merasa dipaksa.
Tawarkan berdasarkan kebutuhan.
27. Cari Produk dengan Target Pasar yang Jelas
Semakin jelas target pasar, semakin mudah membuat marketing.
Contohnya:
"Produk untuk semua orang"
terlalu luas.
Lebih spesifik:
"Aksesori meja kerja untuk pekerja remote."
Atau:
"Perlengkapan belajar untuk mahasiswa."
Dengan target yang jelas, kamu dapat membuat konten yang lebih relevan.
28. Perhatikan Daya Beli Target Pasar
Produk bagus belum tentu cocok dengan target pasar.
Misalnya targetmu mahasiswa dengan budget terbatas.
Produk premium dengan harga sangat tinggi mungkin sulit terjual.
Sebaliknya, produk yang terlalu murah mungkin tidak memberikan margin cukup.
Karena itu, sesuaikan:
Produk + harga + target pasar.
29. Jangan Hanya Mengejar Produk Murah
Banyak pemula berpikir:
"Kalau harga beli murah, pasti untung besar."
Tidak selalu.
Produk murah dapat memiliki:
- Persaingan tinggi.
- Margin tipis.
- Banyak kompetitor.
- Perang harga.
Produk dengan harga lebih tinggi dapat tetap laku jika memberikan nilai yang sepadan.
30. Cari Produk yang Bisa Dibedakan
Jika produkmu identik dengan ribuan penjual lain, kamu akan mudah masuk perang harga.
Cari cara melakukan diferensiasi.
Misalnya:
- Desain khusus.
- Packaging.
- Customization.
- Bundling.
- Edukasi.
- Garansi.
- Pelayanan.
- Niche tertentu.
31. Pertimbangkan Custom Product
Produk custom dapat menjadi salah satu cara membedakan diri.
Contohnya:
- Nama pelanggan.
- Desain khusus.
- Ukuran khusus.
- Warna tertentu.
- Packaging personal.
Produk custom dapat memiliki nilai lebih tinggi karena terasa lebih personal.
Namun perhatikan kapasitas produksi dan waktu pengerjaan.
32. Riset Tren dengan Bijak
Tren dapat membantu menemukan peluang.
Perhatikan:
- Media sosial.
- Marketplace.
- Forum.
- Konten creator.
- Pencarian online.
- Produk yang mulai banyak dibicarakan.
Tetapi jangan langsung membeli stok.
Tanyakan:
Apakah tren ini hanya berlangsung beberapa minggu atau memiliki potensi lebih panjang?
33. Jangan Membeli Stok karena FOMO
FOMO atau fear of missing out dapat membuat orang mengambil keputusan bisnis tanpa perhitungan.
Misalnya melihat produk viral lalu berpikir:
"Kalau tidak beli sekarang, saya akan ketinggalan."
Kemudian membeli stok besar.
Beberapa minggu kemudian tren berhenti.
Akhirnya stok menumpuk.
Bisnis harus berdasarkan data dan perhitungan, bukan kepanikan.
34. Cari Produk yang Bisa Dipasarkan dengan Banyak Cara
Produk yang hanya bisa dipasarkan melalui satu metode memiliki risiko lebih tinggi.
Produk yang dapat dipromosikan melalui:
- SEO.
- TikTok.
- Instagram.
- YouTube.
- Marketplace.
- Email.
- Influencer.
- Blog.
memiliki lebih banyak opsi distribusi.
35. Gunakan Keyword untuk Menemukan Ide Produk
Keyword dapat menjadi sumber ide.
Misalnya orang mencari:
- "cara mengatasi..."
- "produk terbaik untuk..."
- "alat untuk..."
- "harga..."
- "rekomendasi..."
- "perbandingan..."
Kata-kata tersebut dapat membantu memahami kebutuhan pasar.
Namun jangan hanya mengejar keyword dengan volume tinggi.
Keyword dengan volume kecil tetapi sangat relevan juga bisa bernilai.
36. Perhatikan Long-Tail Keyword
Long-tail keyword adalah pencarian yang lebih spesifik.
Contohnya:
"tas laptop"
lebih luas.
Sedangkan:
"tas laptop 14 inch waterproof untuk kerja"
lebih spesifik.
Pencarian spesifik dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kebutuhan konsumen.
37. Buat Daftar 20 Produk Potensial
Jangan berhenti pada satu ide.
Buat daftar.
Contohnya:
- Produk A.
- Produk B.
- Produk C.
- Produk D.
- Produk E.
- Produk F.
- Produk G.
- Produk H.
- Produk I.
- Produk J.
- Produk K.
- Produk L.
- Produk M.
- Produk N.
- Produk O.
- Produk P.
- Produk Q.
- Produk R.
- Produk S.
- Produk T.
Kemudian beri skor.
38. Buat Sistem Skor Produk
Kamu dapat memberikan nilai 1–10 untuk beberapa faktor.
Contohnya:
| Faktor | Skor |
|---|---|
| Permintaan | 1–10 |
| Margin | 1–10 |
| Persaingan | 1–10 |
| Kemudahan pengiriman | 1–10 |
| Potensi repeat order | 1–10 |
| Kemudahan pemasaran | 1–10 |
| Diferensiasi | 1–10 |
| Risiko stok | 1–10 |
Produk dengan skor keseluruhan lebih menarik dapat masuk tahap pengujian.
Ini bukan formula pasti, tetapi membantu membuat keputusan lebih objektif.
39. Jangan Mengabaikan Persaingan
Persaingan tinggi bukan otomatis berarti produk buruk.
Persaingan tinggi bisa berarti:
Permintaan pasar juga tinggi.
Yang perlu diperhatikan adalah:
Apakah kamu memiliki cara untuk bersaing?
Jika tidak punya diferensiasi dan modal marketing terbatas, produk tersebut mungkin lebih sulit untuk pemula.
40. Cari Niche yang Lebih Spesifik
Daripada menjual:
Aksesori elektronik.
Kamu dapat memilih:
Aksesori meja kerja untuk pekerja remote.
Daripada:
Produk olahraga.
Kamu dapat memilih:
Perlengkapan olahraga untuk pemula di rumah.
Niche membuat positioning lebih jelas.
41. Perhatikan Masalah yang Mahal
Semakin besar masalah yang diselesaikan, semakin besar kemungkinan seseorang bersedia membayar lebih.
Misalnya bisnis mungkin bersedia membayar lebih untuk software yang menghemat banyak waktu dibandingkan produk hiburan murah.
Namun jangan hanya mengejar harga tinggi.
Yang penting adalah:
Nilai yang dirasakan pelanggan.
42. Cari Produk yang Menghemat Waktu
Produk yang membuat pekerjaan menjadi lebih mudah atau cepat dapat memiliki daya tarik.
Misalnya:
- Organizer.
- Automation tools.
- Template.
- Software.
- Peralatan praktis.
Orang sering bersedia membayar untuk menghemat:
Waktu, tenaga, atau kerepotan.
43. Cari Produk yang Meningkatkan Kenyamanan
Kenyamanan juga merupakan nilai.
Misalnya:
- Produk portable.
- Produk multifungsi.
- Produk yang mudah digunakan.
- Produk yang mengurangi pekerjaan manual.
Jika produk dapat membuat aktivitas sehari-hari lebih nyaman, ada peluang pasar.
44. Perhatikan Produk yang Membantu Orang Mencapai Tujuan
Orang membeli sesuatu bukan hanya karena barangnya.
Mereka membeli hasil.
Misalnya seseorang membeli alat olahraga bukan hanya karena alatnya.
Mereka mungkin menginginkan:
- Tubuh lebih sehat.
- Latihan lebih mudah.
- Konsistensi.
Dalam marketing, komunikasikan manfaat produk dengan jelas dan jangan membuat klaim yang tidak dapat dibuktikan.
45. Jangan Menjual Produk yang Kamu Tidak Pahami
Jika kamu tidak memahami produk, kamu akan kesulitan:
- Menjawab pertanyaan.
- Membuat konten.
- Menjelaskan manfaat.
- Menangani komplain.
Pelajari produk sebelum menjualnya.
Jika perlu, gunakan sendiri atau uji sampel terlebih dahulu.
46. Pesan Sampel Sebelum Membeli Banyak
Ini sangat penting.
Jika memungkinkan, pesan sampel.
Periksa:
- Kualitas.
- Ukuran.
- Material.
- Packaging.
- Fungsi.
- Ketahanan.
- Kesesuaian dengan foto.
Jangan mengandalkan foto supplier saja.
47. Periksa Supplier
Supplier adalah bagian penting dari bisnis online.
Pertimbangkan:
- Konsistensi kualitas.
- Harga.
- Minimum order.
- Kecepatan produksi.
- Kemampuan restock.
- Komunikasi.
- Kebijakan retur.
- Packaging.
Jangan hanya memilih supplier karena menawarkan harga termurah.
Supplier murah tetapi kualitas tidak konsisten dapat membuat bisnis mengalami masalah.
48. Jangan Bergantung pada Satu Supplier
Jika memungkinkan, memiliki alternatif supplier dapat mengurangi risiko.
Bayangkan produkmu tiba-tiba laku.
Kemudian supplier utama tidak dapat menyediakan stok.
Bisnis bisa kehilangan momentum.
Memiliki opsi supplier cadangan dapat memberikan fleksibilitas.
49. Pastikan Produk Legal untuk Dijual
Sebelum menjual produk, pastikan produk tersebut sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku di wilayah tempat kamu berbisnis.
Perhatikan khususnya kategori yang memiliki aturan tambahan.
Jangan menjual produk hanya karena melihat orang lain menjualnya.
50. Buat Penawaran yang Menarik
Produk yang bagus perlu penawaran yang jelas.
Penawaran dapat mencakup:
- Produk.
- Harga.
- Bonus.
- Bundling.
- Garansi sesuai kemampuan.
- Pengiriman.
- Keunggulan.
- Call to action.
Namun hindari klaim palsu.
Kejujuran membantu membangun bisnis jangka panjang.
51. Gunakan Foto Produk yang Jelas
Foto produk sangat penting dalam bisnis online.
Pastikan pelanggan dapat melihat:
- Bentuk.
- Ukuran.
- Detail.
- Warna.
- Cara penggunaan.
Jika ukuran penting, berikan perbandingan.
Jangan membuat produk terlihat jauh lebih besar atau lebih bagus daripada kenyataan.
52. Buat Video Produk
Video dapat membantu pelanggan memahami:
- Cara penggunaan.
- Ukuran.
- Tekstur.
- Fungsi.
- Kelebihan.
Video juga dapat digunakan untuk content marketing.
Contohnya:
"3 cara menggunakan produk ini."
Konten edukasi sekaligus menjadi promosi.
53. Tulis Deskripsi Produk yang Menjual
Deskripsi produk yang bagus menjawab pertanyaan:
- Apa produknya?
- Untuk siapa?
- Apa manfaatnya?
- Bagaimana menggunakannya?
- Berapa ukurannya?
- Apa bahannya?
- Apa yang didapat?
- Apa batasannya?
Jangan hanya menulis:
"Produk berkualitas terbaik."
Berikan informasi konkret.
54. Gunakan Social Proof secara Jujur
Social proof dapat berupa:
- Review asli.
- Foto pelanggan.
- Video penggunaan.
- Rating.
- Studi kasus.
Jangan membeli atau membuat review palsu.
55. Uji Harga
Harga bukan sesuatu yang harus selalu sama.
Kamu dapat menguji beberapa penawaran yang wajar.
Misalnya:
- Produk satuan.
- Paket dua.
- Paket tiga.
- Basic.
- Premium.
Tujuannya mengetahui kombinasi harga dan nilai yang paling cocok untuk pasar.
Tetap perhatikan aturan platform dan jangan menggunakan teknik harga yang menyesatkan.
56. Cari Produk dengan Potensi Brand
Jika tujuanmu jangka panjang, pertimbangkan apakah produk dapat berkembang menjadi brand.
Misalnya awalnya menjual satu produk.
Kemudian dapat berkembang menjadi:
- Produk A.
- Produk B.
- Produk C.
- Bundling.
- Produk premium.
Brand yang kuat dapat menjadi aset.
57. Jangan Menyalin Brand Orang Lain
Hindari:
- Nama yang membingungkan.
- Logo yang terlalu mirip.
- Desain yang melanggar hak cipta.
- Foto milik pihak lain tanpa izin.
- Produk tiruan.
Bangun identitas sendiri.
58. Analisis Potensi Repeat Customer
Sebelum memilih produk, tanyakan:
"Setelah membeli produk ini, apakah pelanggan memiliki alasan membeli lagi?"
Jika iya, cari tahu kapan mereka kemungkinan membutuhkan pembelian berikutnya.
Misalnya:
- Setiap bulan.
- Setiap beberapa bulan.
- Ketika produk habis.
- Ketika membutuhkan variasi baru.
Ini dapat membantu membuat strategi retensi.
59. Jangan Mengabaikan Produk Sekali Beli
Produk sekali beli tetap bisa menjadi bisnis yang bagus.
Kamu dapat meningkatkan nilai pelanggan melalui:
- Produk pelengkap.
- Produk premium.
- Produk baru.
- Referral.
- Bundling.
Jadi tidak semua bisnis harus memiliki subscription atau repeat order.
60. Buat Strategi Pengujian Produk
Setelah menemukan kandidat produk, gunakan proses:
Riset → Sampel → Hitung margin → Uji pasar → Evaluasi → Scale.
Jangan:
Riset → Beli stok 1.000 unit → Berharap laku.
Perbedaan proses tersebut dapat menentukan seberapa besar risiko yang kamu ambil.
61. Contoh Analisis Produk
Misalnya kamu menemukan produk:
Organizer meja.
Permintaan
Banyak orang memiliki meja kerja dan belajar.
Target pasar
- Mahasiswa.
- Pekerja remote.
- Content creator.
- Pelajar.
Masalah
Meja berantakan.
Kelebihan
Mudah diperlihatkan melalui video.
Pengiriman
Relatif mudah jika ukuran dan material sesuai.
Diferensiasi
Bisa dibuat dalam beberapa desain.
Risiko
Kompetisi cukup tinggi.
Solusi
Buat positioning khusus.
Misalnya:
Organizer meja minimalis untuk workspace kecil.
Dengan demikian, produk memiliki target yang lebih jelas.
62. Contoh Analisis Produk Kedua
Misalnya:
Template budgeting digital.
Target
- Mahasiswa.
- Pekerja muda.
- Pemula mengelola uang.
Masalah
Sulit mengatur pemasukan dan pengeluaran.
Modal
Relatif kecil jika dibuat sendiri.
Distribusi
Dapat dipasarkan melalui:
- Blog.
- Media sosial.
- Newsletter.
Risiko
Banyak template gratis.
Diferensiasi
Buat template yang:
- Sederhana.
- Mudah digunakan.
- Memiliki panduan.
- Disesuaikan dengan kebutuhan target pasar.
63. Produk Digital Juga Bisa Menjadi Pilihan
Jangan berpikir bisnis online selalu harus menjual barang fisik.
Produk digital dapat berupa:
- Ebook.
- Template.
- Spreadsheet.
- Preset.
- Desain.
- Kursus.
- Software.
Kelebihannya adalah tidak membutuhkan gudang dan pengiriman fisik.
Namun tetap membutuhkan:
- Kualitas.
- Pemasaran.
- Dukungan pelanggan.
- Diferensiasi.
64. Cara Menentukan Produk untuk Pemula
Jika kamu benar-benar baru, gunakan filter berikut.
Pilih produk yang:
Pertama: kamu pahami.
Kedua: memiliki pasar.
Ketiga: mudah diuji.
Keempat: tidak membutuhkan modal terlalu besar.
Kelima: memiliki margin yang masuk akal.
Keenam: mudah dipasarkan.
Ketujuh: risikonya dapat kamu tanggung.
Ini jauh lebih baik daripada memilih produk hanya karena viral.
65. Jangan Gunakan Semua Modal untuk Stok
Misalnya kamu memiliki modal Rp10 juta.
Jangan otomatis:
Rp10 juta = stok.
Kamu mungkin membutuhkan dana untuk:
- Packaging.
- Marketing.
- Website.
- Operasional.
- Pengiriman.
- Retur.
- Keadaan darurat.
Sisakan modal kerja.
Bisnis membutuhkan cash flow.
66. Gunakan Modal Secara Bertahap
Strategi sederhana:
Tahap 1: riset.
Tahap 2: sampel.
Tahap 3: pengujian.
Tahap 4: stok kecil.
Tahap 5: scale.
Dengan demikian, modal besar baru digunakan setelah mendapatkan bukti yang lebih kuat.
67. Produk yang Laku Belum Tentu Produk yang Tepat untukmu
Ini penting.
Sebuah produk bisa sangat laku tetapi tidak cocok dengan kondisi kamu.
Misalnya:
- Modal tidak cukup.
- Supplier sulit.
- Margin kecil.
- Pengiriman rumit.
- Tidak memahami kategori.
Jadi jangan hanya mencari:
Produk terlaris.
Cari:
Produk yang memiliki permintaan dan cocok dengan kemampuan bisnis yang kamu miliki.
68. Fokus pada Profit per Pelanggan
Bayangkan ada dua produk.
Produk A:
Penjualan tinggi tetapi profit sangat kecil.
Produk B:
Penjualan lebih rendah tetapi margin sehat.
Produk B bisa menjadi bisnis yang lebih menarik.
Karena itu, ukur:
Profit per transaksi.
Bukan hanya jumlah transaksi.
69. Jangan Takut Menghapus Produk yang Tidak Laku
Jika produk sudah diuji dengan benar tetapi terus menghasilkan kerugian, jangan terus mempertahankannya hanya karena sudah mengeluarkan modal.
Gunakan data.
Jika perlu:
- Kurangi stok.
- Bundling.
- Ubah positioning.
- Ubah target.
- Hentikan produk.
Modal yang tersisa dapat digunakan untuk peluang yang lebih baik.
70. Bangun Portofolio Produk
Setelah produk utama terbukti, kamu dapat membangun beberapa produk yang masih berhubungan.
Contohnya:
Brand workspace
Produk:
- Desk organizer.
- Cable management.
- Laptop stand.
- Desk mat.
Semua produk memiliki target pelanggan yang sama.
Ini lebih masuk akal dibandingkan menjual produk yang tidak berhubungan.
71. Jangan Terlalu Banyak Produk di Awal
Terlalu banyak produk dapat menyebabkan:
- Stok rumit.
- Modal tersebar.
- Marketing tidak fokus.
- Sulit mengelola katalog.
Mulailah dengan beberapa produk potensial.
Kemudian lihat mana yang paling mendapatkan respons.
72. Gunakan Data Penjualan untuk Mengambil Keputusan
Setelah bisnis berjalan, jangan hanya mengandalkan feeling.
Lihat:
- Produk terlaris.
- Produk paling menguntungkan.
- Produk dengan retur tinggi.
- Produk dengan review terbaik.
- Produk yang paling sering ditanyakan.
- Produk yang sering dibeli bersamaan.
Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan produk berikutnya.
73. Dengarkan Pertanyaan Pelanggan
Pertanyaan pelanggan sering menunjukkan kebutuhan.
Misalnya banyak orang bertanya:
"Apakah ada ukuran lebih besar?"
Mungkin kamu memiliki peluang membuat ukuran tersebut.
Atau:
"Ada warna hitam?"
Ini dapat menjadi ide variasi.
Pelanggan sebenarnya sering membantu kamu melakukan riset produk secara gratis.
74. Dengarkan Produk yang Sering Diminta
Jika banyak pelanggan meminta produk yang belum kamu jual, catat.
Setelah beberapa permintaan muncul, lakukan riset.
Jangan langsung membeli stok.
Tetapi permintaan berulang merupakan sinyal yang menarik.
75. Buat Produk Berdasarkan Feedback
Model sederhana:
Dengar → Analisis → Uji → Buat → Jual → Evaluasi.
Dengan cara ini, produk berkembang berdasarkan kebutuhan pasar.
76. Jangan Berasumsi Kamu Tahu Pelanggan
Kamu mungkin merasa:
"Orang pasti suka produk ini."
Tetapi pasar dapat memberikan jawaban berbeda.
Karena itu:
Hipotesis harus diuji.
Dalam bisnis, asumsi bukan fakta.
77. Gunakan Data Kecil Sebelum Data Besar
Kamu tidak membutuhkan jutaan views untuk melakukan validasi awal.
Bahkan:
- 20 calon pelanggan.
- 50 pengunjung.
- 10 transaksi.
dapat memberikan informasi berharga.
Yang penting adalah kualitas sinyal.
78. Fokus pada Conversion
Traffic tinggi tetapi conversion rendah dapat menjadi masalah.
Misalnya:
10.000 orang melihat produk.
Tetapi hanya 2 orang membeli.
Kamu harus mencari tahu:
- Apakah produk cocok?
- Harga terlalu tinggi?
- Penawaran tidak jelas?
- Foto kurang bagus?
- Kurang kepercayaan?
- Target traffic salah?
79. Perbaiki Funnel Penjualan
Funnel sederhana:
Orang melihat konten → mengunjungi halaman produk → membaca informasi → percaya → membeli → kembali membeli.
Cari titik yang banyak orang tinggalkan.
Perbaiki bagian tersebut.
80. Kesimpulan
Menentukan produk yang laku dijual online dan dicari banyak orang bukan sekadar mencari barang yang sedang viral.
Proses yang lebih kuat adalah:
Cari masalah → temukan target pasar → riset permintaan → analisis kompetitor → cek review → hitung margin → cari supplier → pesan sampel → uji produk → evaluasi → scale.
Produk yang bagus biasanya bukan hanya memiliki banyak pencarian.
Produk yang bagus adalah produk yang:
- Dibutuhkan.
- Memiliki target pasar.
- Menyelesaikan masalah.
- Memiliki margin yang sehat.
- Dapat dipasarkan.
- Dapat dikirim dengan baik.
- Memiliki peluang diferensiasi.
- Sesuai dengan kemampuan modal.
- Memiliki potensi dikembangkan.
Jangan membeli stok dalam jumlah besar hanya karena sebuah produk sedang viral.
Jangan menganggap produk kompetitor yang laris pasti akan laris di tokomu.
Jangan menghabiskan seluruh modal sebelum melakukan validasi.
Dan jangan hanya mengejar omzet.
Keuntungan dan keberlanjutan bisnis jauh lebih penting daripada sekadar angka penjualan.
Jika kamu baru mulai, gunakan pendekatan sederhana.
Pilih beberapa kandidat produk.
Berikan skor.
Lakukan riset.
Pesan sampel.
Hitung biaya.
Uji dalam skala kecil.
Kemudian lihat data.
Jika hasilnya bagus, tingkatkan stok dan pemasaran secara bertahap.
Jika hasilnya buruk, cari tahu penyebabnya.
Mungkin produknya salah.
Mungkin target pasarnya salah.
Mungkin harganya tidak cocok.
Mungkin penawarannya kurang menarik.
Atau mungkin pemasaran belum tepat.
Jangan langsung menyerah hanya karena eksperimen pertama gagal.
Namun jangan pula mempertahankan produk yang terus merugikan tanpa melakukan perubahan.
Pada akhirnya, produk yang laku bukan hanya produk yang banyak orang lihat, tetapi produk yang membuat orang merasa bahwa produk tersebut layak dibeli karena memberikan solusi atau nilai yang mereka butuhkan.
Jika kamu mampu memahami kebutuhan pelanggan lebih baik daripada sekadar mengikuti tren, kamu memiliki fondasi yang jauh lebih kuat untuk membangun bisnis online.
Riset sebelum membeli stok. Uji sebelum scale. Hitung sebelum mengeluarkan modal. Dengarkan pelanggan sebelum mengembangkan produk.
Itulah salah satu prinsip terpenting dalam menemukan produk yang berpotensi laku dan membangun bisnis online yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
Komentar
Posting Komentar
jika ada pertanyaan silahkan ajukan pertanyaan tersebut di blog ini, admin serta angota lainya akan menjawab